PALEMBANG – Nias Barat
Sejumlah calon anggota DPR di Sumatra Selatan kini kehabisan dana kampanye padahal mereka sebelumnya telah menyiapkan dana setidaknya Rp 100 juta.
Beberapa caleg bahkan bukan hanya menggadaikan pin tetapi mulai menjual berbagai harta benda, seperti mobil, dan rumah. Seorang caleg yang kini juga masih duduk sebagai anggota legislatif di DPRD Sumsel mengaku, terpaksa menggadaikan pin anggota dewan miliknya karena sudah kehabisan dana kampanye. “Saya terpaksa menggadaikan pin emas tersebut karena sudah tidak punya persediaan dana kampanye lagi, sementara itu masa sosialisasi masih panjang,” katanya, di Palembang, Rabu. Menurut dia, kampanye dengan sistem suara banyak ini terbukti lebih membutuhkan dana yang lebih besar dibanding aturan sebelumnya.
“Calon anggota legislatif harus mendatangi pemilih dari rumah ke rumah dan juga membutuhkan cukup banyak tenaga tim sukses,” tambah dia. Ia mengatakan, kondisi ini tentunya merupakan tantangan besar bagi calon anggota legislatif.Karena tidak hanya cukup mengandalkan kemampuan dalam menyosialisasikan program mereka tetapi harus siap dengan dana kampanye yang besar, katanya.
Iklan yang sebelumnya dipasang di sejumlah media massa kini mulai dikurangi sejumlah calon anggota DPD dan legislatif. Delta, seorang karyawan salah satu media lokal di Sumsel mengatakan, sejumlah pelanggan yang sebelumnya memasang iklan kini menghentikan pemasangan.
“Sejumlah calon anggota DPD dan legislatif kini mengaku terpaksa menghentikan kampanye mereka melalui media karena tidak punya dana lagi,” katanya.
Caleg di Medan Sudah “Megap-megap” Fisik dan Duit
Sejumlah caleg di Medan, mengaku mulai “megap-megap” dan keletihan dalam menyosialisasikan dirinya kepada masyarakat meski pemilu masih sebulan lagi. “Sudah capek kali lah bang, baik dalam artian capek tenaga atau fisik maupun capek dari sisi keuangan,” ujar salah seorang caleg pria di Medan, Selasa. Caleg dari daerah pemilihan III untuk DPRD Kota Medan yang meminta jati dirinya tidak ditulis itu mengaku sudah menghabiskan anggaran yang cukup besar terkait pencalegannya pada Pemilu 2009.
“Namanya saja berjuang, tentu harus keluar anggaran. Tapi, selain capek dari segi dana, saya lebih capek lagi secara fisik karena dalam sebulan terakhir selalu begadang untuk bertemu masyarakat calon pemilih,” ujarnya. Namun demikian, dia memastikan perjuangannya akan terus berlanjut. “Sudah kepalang basah.
Perjuangan harus diteruskan meski tetap tidak menjamin kita akan menang dan nantinya duduk sebagai anggota dewan,” ujarnya. Hal yang sama juga dikemukakan caleg perempuan dari daerah pemilihan Kecamatan Talawi dan Tanjung Tiram untuk DPRD Kabutapen Batubara, Sumut. Caleg yang juga menolak disebutkan identitasnya ini mengaku sangat keletihan karena harus bolak-baik dari Medan ke Batubara yang jaraknya mencapai lebih kurang 150 kilometer.
Setiap akhir pekan, yakni setiap Jumat pagi atau Jumat sore, caleg yang bekerja dan berdomisili di Medan itu sudah harus berangkat ke tanah kelahirannya itu untuk bertemu masyarakat di daerah pemilihannya.
Kalau soal anggaran yang sudah dikeluarkan jangan ditanya lagi, capeknya minta ampun. Saya bahkan sudah sempat minjam dana segala sama saudara,” katanya. Namun begitu caleg yang berprofesi sebagai wartawan sekaligus pengusaha itu mengaku tidak akan menyerah.
Dirinya rela capek untuk mewujudkan tekadnya duduk di lembaga legislatif di tanah kelahirannya. “Saya berjuang menjadi caleg bukan semata karena ambisi pribadi, tapi juga karena melihat begitu besarnya dukungan dan harapan masyarakat Talawi dan Tanjung Tiram agar saya bisa berhasil pada pemilu kali ini,” kata caleg tersebut.
Seorang caleg lainnya bahkan mengaku sudah “megap-megap” menghadapi proses sosialisasi yang menguras cukup banyak materi dan tenaga. “Sudah megap-megap, tapi belum sampai ’lempar handuk’, malu kita kalau menyerah,” ujar caleg untuk DPRD Sumut dari daerah pemilihan Kabupaten Deli Serdang yang juga meminta jati dirinya tidak ditulis.
DIarsipkan di bawah: nias
